Sunday, 4 October 2015

Subhanallah, bukti firman allah di dalam al-qur'an,Api di Dalam laut

Subhanallah - muncul sebuah
fenomena retakan di dasar lautan yang
mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air
mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat
Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa
tingginya, ia tidak bisa membuat air laut
menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-
luah, ia tidak bisa memadamkan api.

Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik
ini. Firman-Nya: "Ada laut yang di dalam tanahnya
ada api" (Qs. Ath-Thur 6).

Nabi SAW bersabda: "Tidak ada yang mengarungi
lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau
orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya
di bawah lautan terdapat api dan di bawah api
terdapat lautan."

Ulasan Hadits Nabi
Hadits ini sangat sesuai dg sumpah Allah SWT
yang dilansir oleh Al-Qur’an pada permulaan
Surah Ath-Thur, di mana Allah bersumpah (Maha
Besar Allah yang tidak membutuhkan sumpah
apapun demi lautan yang di dalam tanahnya ada
api "al-bahrul masjur." Sumpahnya:
"Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran
yang terbuka; dan demi Baitul Ma'mur; dan atap
yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam
tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu
pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat
menolaknya." (Qs. Ath-Thur: 1-8)
Bangsa Arab, pada waktu diturunkannya Al-
Qur’an tidak mampu menangkap dan memahami
isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang di
dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab
(kala itu) hanya mengenal makna “sajara”
sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga
membuatnya panas atau mendidih. Sehingga
dalam persepsi mereka, panas dan air adalah
sesuatu yang bertentangan. Air mematikan
panas sedangkan panas itu menguapkan air.
Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan
dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan
yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?
...tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah
samudera tersebut sebagian besar terdiri dari
bebatuan berapi ( volcanic rocks) yang dapat
meledak layaknya ledakan gunung berapi yang
dahsyat...
Persepsi demikian mendorong mereka untuk
menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di
akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung
dengan firman Allah SWT: "Dan apabila lautan
dipanaskan" (QS. At-Takwir 6).
Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-
Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa
futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak,
namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur
semuanya menggunakan sarana-sarana empirik
yang benar-benar ada dan dapat ditemukan
dalam hidup kita (di dunia).
Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir
untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja
“sajara” selain menyalakan sesuatu hingga
membuatnya panas. Dan mereka ternyata
menemukan makna dan arti lain dari kata
"sajara," yaitu “mala'a” dan “kaffa” (memenuhi
dan menahan). Mereka tentu saja sangat
gembira dengan penemuan makna dan arti baru
ini karena makna baru ini dapat memecahkan
kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa
Allah SWT telah memberikan anugerah kepada
semua manusia dengan mengisi dan memenuhi
bagian bumi yang rendah dengan air sambil
menahannya agar tidak meluap secara berlebihan
ke daratan.
Namun, hadits Rasulullah SAW yang sedang kita
bahas ini secara singkat menegaskan bahwa:
Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di
bawah api ada lautan.
Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan
menyelam ke dasar laut dan samudera dalam
rangka mencari alternatif berbagai barang
tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di
daratan akibat konsumerisme budaya
materialistik yang dijalani manusia sekarang ini.
Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung
berapi ( volcanic mountain chain ) yang
membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di
tengah-tengah seluruh samudera bumi yang
kemudian mereka sebut sebagai 'gunung-gunung
tengah samudera'.
Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung
tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-
gunung tengah samudera tersebut sebagian
besar terdiri dari bebatuan berapi ( volcanic rocks)
yang dapat meledak layaknya ledakan gunung
berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak
yang sangat besar. Jaring retak ini dapat
merobek lapisan bebatuan bumi dan ia
melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari
segala arah dan terpusat di dalam dasar
samudera dan beberapa lautan. sedangkan
kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman
jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi
secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak
bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur
bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan
memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.
Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan
yang panas ke dasar semua samudera dan
beberapa lautan semacam Laut Merah dengan
suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius.
Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai
jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera
atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian
disebut oleh para ilmuwan dengan "fenomena
perluasan dasar laut dan samudera." Dengan
terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka
wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses
perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan
yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar
samudera dan beberapa dasar laut.
...meskipun sebegitu banyak, air laut atau
samudera tetap tidak mampu memadamkan bara
api magma tersebut. Dan magma yang sangat
panas pun tidak mampu memanaskan air laut
dan samudera....
Salah satu fenomena yang mencengangkan para
ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun
sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap
tidak mampu memadamkan bara api magma
tersebut. Dan magma yang sangat panas pun
tidak mampu memanaskan air laut dan
samudera. Keseimbangan dua hal yang
berlawanan: air dan api di atas dasar samudera
bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika
Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan
seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan
bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada
batas.
Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka
yang banyak mengalami guncangan gunung
berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut
ini pun kaya dengan beragam jenis barang
tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah
proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan
Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara
Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan
tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.
Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler
barang tambang untuk mengumpulkan sampel
tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler
pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam
batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m.
Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal,
tidak ada seorang pun yang berani mendekat
karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka
keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya
mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan
demikian, sudah terbukti nyata di kalangan
ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung
vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar
sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik
serupa yang terjadi di daratan.
...terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti
bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan
oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-
ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung
berapi...
Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil
dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi
dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi
melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap
moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan
lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini
hingga kedalaman tertentu mampu mencapai
lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi
dan lapisan bawahnya, magma vulkanik
menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih
banyak dibanding debit air yang ada di
permukaan bumi.



Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW
ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi
yang mencengangkan dengan sabda: "Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di
bawah api ada lautan."

Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru
bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa
tahun terakhir.
Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan
sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW
menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan
kerasulan Muhammad SAW, sekaligus
membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan
wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang
maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar
Allah yang menyatakan:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril)
yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang
cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan
rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang
tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah
dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada
Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau
lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada
hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah
wahyukan” (QS. An-Najm 3-10)


Tidak seorang pun di muka bumi ini yang
mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada
beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran
fakta ini dalam hadis Rasulullah SAW benar-
benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang
menegaskan kenabian Muhammad SAW dan
kesempurnaan kerasulannya.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

No comments:

Post a Comment